Bootleg Without The Boots

March 20, 2008

words by Rekti

Some might say digital technology kills the music industry. With mp3’s rapidly replacing conventional phonograph, major labels and big time music businessmen still searching ways to obtain huge amount of money they once earned. But is it true what people saying about the internet, file sharing and all other gadget that they accused for killing music industry? Are they really a disaster for us? Should we call them a enemy?

Certainly not.

Whole bunch of kids now days are only into spending their parent’s money for metal bands T-shirts, tight jeans, tattoos, McBeth and eyeliners rather than collecting records and spending hours in front of the jukebox. They don’t even have a sense for research, what they favor are only what they have on their iPod which from their hipster friend they got the playlists from (Shit, too many they in on sentence).

What people doesn’t realise is that there’s a whole new adventurous possibility brought to you by the virtually unlimited world of internet. Thank god for the existing vinyl junkies and geeks that evolves them selves and their exponent from the younger generation. What they do is not too different from what they did for Led Zeppelin, when they hide the tape recorder inside their boots and talked all day about the band among their friends. This word of mouth culture still obviously preserved well not only by the former geeks but mainly by the whole new generation who share the same feeling for the love of music.

Since MTV is not access-able anymore these days, youtube could be the new way of promoting music videos, in a tradition of bootlegging of course. Bellow are the example of what they do. They might wear sneakers rather than boots and use cellphone rather than tape recorder. But they still are the bootleggers. These kids are the saviour. This century’s chirstined warrior with internet as their weapon.

I’d like to say the music industry may die, and I might even not caring about those limo riding CEO’s. But the music will be here and there forever until the end of the world.

Entry Filed under: Culture. Tags: , .

2 Comments Add your own

  • 1. Moerz  |  April 4, 2008 at 6:49 am

    yeah..
    gw dukung musik gratisan.. hehehe….
    jaman sekarang komersialisasi bikin musik gak asik kaya dulu…

    gw pernah nonton konser led zeppelin, cd sih…
    yang judulnya “the song remain the same”
    …..

  • 2. rectv  |  April 4, 2008 at 9:20 pm

    Titik berat permasalahannya bukan pada euphoria semu fenomena mp3 download yang dewasa ini menjadi salah kaprah karena media mp3 dianngap sebagai barang gratisan dan semua orang merasa memiliki hak atas semua file mp3 yang tersedia di dunia maya.

    Yang harus dipertimbangkan adalah: sudahkah si pengguna dan penikmat mp3 tersebut melakukan kewajibannya sebagai penikmat seni (musik) untuk mengapresiasi hasil karya orang lain.

    Yang saya maksudkan dalam posting-an di atas adalah kenyataannya kebanyakan dari pengguna tersebut cenderung aji-mumpung dengan kemudahan yang disediakan oleh teknologi mp3. Sikap mereka tidak jauh berbeda dengan ibu-ibu yang kalap melihat tag ‘Sale’ di pusat perbelanjaan, yang lalu memborong habis semua barang (karena murah / gratis) tanpa mempertimbangkan kegunaan dan manfaat dari si barang tersebut, yang akhirnya malah jadi menyia-nyiakan dan mubazir. Banyak pengguna file mp3 hanya mengumpulkan mp3 tanpa benar-benar menyimak dan mengapresiasikan karya dengan benar dan seksama.

    Perlu diingat bahwa walaupun mp3-mp3 ini gratis, kita tidak mempunyai hak kepimilikan atas lagunya. Karena itu pula lah mp3 ini sering kali disebut ‘Sample’.

    Kita boleh minikmati sepuasnya lagu mp3 tersebut. Tetapi kita harus ingat bahwa kita mendapatkannya secar gratis, dan tentu saja seniman (musisi) yang mengarang dan menghasilkan lagu tersebut tidak membuatnya dengan gratis. Setidaknya mereka menghabiskan waktu dan pikiran untuk membuatnya. Sudah sewajarnya kita menghabiskan waktu dan pikiran untuk menikmati dan memperhatikannya. Alangkah lebih baiknya kita sebagai penikmat bisa mengajak dan membawa orang lain untuk ikut menikmati dan memperhatikan karya tersebut, bukan sekedar didengar selewat saja.

    Tindakan tersebut biasanya ditunjukkan dengan cara memberitahu orang lain atau membagikan file mp3. Tetapi tindakan ini sangat tipis batasnya antara promosi (word of mouth) dengan pembajakan. Batasnya hanya ditentukan dari niat si yang menyebarkan dan menerima. Jika si penyebar berniat persuasif untuk mengapresiasikan dengan baik, dan si penerima juga akhirnya dapat mengapresiasikan dengan baik.

    Contoh sukses yang paling besar dari kekuatan ‘Word of Mouth’ ini adalah Led Zeppelin. Mereka pada masanya tidak begitu mendapatkan promosi yang besar-besaran. Tetapi penggemarnya semakin hari semakin bertambah, berkat berita dari mulut ke mulut dari orang yang sangat menyukai dan menghargai karya Led Zepplin. Termasuk juga Bootleg-bootleg tak terhitung jumlahnya yang menyebar ke seluruh dunia.

    Salah satu niat baik dari penggemar Led Zeppelin tercermin dari penjualan rekaman mereka yang terus melonjak walaupun bajakan dan bootlegnya ada di mana-mana. Artinya, orang yang mendapatkan bootleg dan bajakan Led Zeppelin masih tetap membeli rekaman aslinya.

    Sikap serupa juga masih bisa dijumpai pada generasi sekarang di mana mereka menyebarkan booleg video melalui youtube dan memberikan gambaran mengenai seperti apa band kegemaran mereka. Dengan demikian orang yang melihat rekaman tersebut bisa secara objektif menilai dan mengapresiasikan bandnya.

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Recent Posts

Archives

Recent Comments

Surya on Andromeda – S/T (19…
rectv on Bootleg Without The Boots
Moerz on Bootleg Without The Boots
Moerz on About